Archive for the ‘Islamic’ Category

Ikhwan dan Akhwat Sejati

Friday, May 2nd, 2008

IKHWAN SEJATI

Seorang remaja pria bertanya pada ibunya, ”Ibu, ceritakan padaku tentang ikhwan sejati!”


Sang Ibu tersenyum dan menjawab…
Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari bahunya yang kekar, tetapi dari kasih sayangnya pada orang disekitarnya.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari suaranya yang lantang, tetapi dari kelembutannya mengatakan kebenaran.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah sahabat di sekitarnya, tetapi dari sikap bersahabatnya pada generasi muda bangsa.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari bagaimana dia di hormati di tempat bekerja, tetapi bagaimana dia dihormati di dalam rumah.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari kerasnya pukulan, tetapi dari sikap bijaknya memahami persoalan.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari dadanya yang bidang, tetapi dari hati yang ada dibalik itu.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari banyaknya akhwat yang memuja, tetapi komitmennya terhadap akhwat yang dicintainya.

Ikhwan sejati bukanlah dilihat dari jumlah barbel yang dibebankan, tetapi dari tabahnya dia mengahdapi lika-liku kehidupan.

Ikhwan Sejati bukanlah dilihat dari kerasnya membaca Al-Quran, tetapi dari konsistennya dia menjalankan apa yang ia baca.

Setelah itu, sang remaja pria kembali bertanya. Siapakah yang dapat memenuhi kriteria seperti itu, Ibu ?

Sang Ibu memberinya buku dan berkata…
Pelajari tentang dia. Ia pun mengambil buku itu, MUHAMMAD, judul buku yang tertulis di buku itu.

AKHWAT SEJATI

Seorang gadis kecil bertanya pada ayahnya, “Abi ceritakan padaku tentang akhwat sejati?”

Sang ayah pun menoleh sambil kemudian tersenyum.
Anakku…


Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Sang ayah diam sejenak sembari melihat ke arah putrinya.“Lantas apa lagi Abi?” sahut putrinya.

Ketahuilah putriku…
Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah…
Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.Setelah itu sang anak kembali bertanya,

Siapakah yang dapat menjadi kriteria seperti itu, Abi?” Sang ayah memberikannya sebuah buku dan berkata, “Pelajarilah mereka!”

Sang anakpun mengambil buku itu dan terlihatlah sebuah tulisan “Istri Rasulullah”. (Muslimah Sholihah)

Diambil dari achoey.wordpress.com

SEJENAK BERSAMA HATI

Thursday, May 1st, 2008

Hati yang bergantung pada nafsu syahwat akan tertutup dari Allah sebesar ketergantungannya kepadanya.

Hati adalah wadah Allah di bumiNya. Yang paling disukaiNya adalah yang paling lembut, paling kuat.

Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.

Jika hati telah keras, mata terlihat kosong.

Kekerasan hati karena empat perkara apabila batasnya telah dilanggar; makan, tidur, berbicara, dan bergaul. Sebagaimana badan apabila sakit, makan dan minuman tidak bermanfaat, demikian pula hati bila telah sakit karena nafsu syahwat, nasihat tidak berguna baginya.

Barangsiapa ingin kejernihan hatinya maka hendaklah ia mengutamakan Allah dari nafsu syahwatnya.

Mereka menyibukkan hati dengan dunia. Seandainya mereka menyibukkan hati mereka dengan Allah dan alam akhirat niscaya akan terang hatinya terhadap kalam Allah dan ayat-ayatNya yang nyata serta membawa pemiliknya pada hikmah-hikmah yang ajaib dan faedah yang maksimal.

Jika hati diberi makan dengan dzikir, diberi minum dengan tafakur, dijaga dari penyakit, niscaya akan mendapatkan keajaiban dan hikmah yang tertinggi.

Rindu kepada Allah dan pertemuan denganNya bagaikan angin semilir yang menghembus hati dan mendinginkannya serta menggetarkan dunia.

Barangsiapa menempatkan hatinya disisi RabbNya, niscaya akan merasakan kedamaian dan ketenangan. Sementara orang yang menempatkannya di antara manusia, niscaya akan merasakan keguncangan dan ketidaktenangan.

Apabila Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia memudahkannya untuk mencintaiNya, ikhlas beribadah kepadaNya, menyibukkan keinginannya denganNya, menyibukkan lisannya untuk berdzikir, kepadaNya dan menyibukkan anggota tubuhnya dengan pengabdian untukNya.

Hati bisa sakit sebagaimana badan pun sakit, kesembuhannya dengan taubat dan menjaga diri dari dosa. Bisa pula berkarat sebagaimana cermin, bersihnya dengan dzikir. Bisa telanjang sebagaimana tubuh, perhiasannya adalah ketakwaan. Bisa lapar dan haus sebagaimana tubuh, makanan dan minumannya adalah mengetahui Allah, mencintaiNya, bertawakal kepadaNya, menyerahkan diri dan mengabdi kepadaNya.

Tiada adzab yang dikenakan kepada seorang hamba yang lebih besar daripada hati yang keras dan jauh dari Allah.

Api diciptakan untuk mengadzab hati yang keras.

Kehancuran hati karena merasa aman dari dosa dan karena lalai, dan kesuburan hati karena takut terhadap dosa dan karena dzikir.

Jika hati diberi makan berupa rasa cinta, niscaya akan hilang hawa nafsu syahwat dari perutnya.

Barangsiapa mengagungkan hak Allah di hatinya hingga tidak melakukan maksiat terhadapNya, niscaya Allah akan mengagungkannya di hati manusia hingga mereka tidak menghinakannya.

Disadur dari kitab Al-Fawaa’id

 

Hello world!

Thursday, April 24th, 2008

Welcome to Hadithuna. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!